Islamic preacher Fethullah Gulen is pictured at his residence in Saylorsburg, Pennsylvania in this December 28, 2004 file photo. A rare defence from a secretive Islamic movement of its role in Turkish political life has exposed a rift with Prime Minister Tayyip Erdogan that could weaken one of modern Turkey's most powerful leaders. The spell of Gulen, a 72-year-old U.S.-based Islamic preacher with a global network of schools, whose supporters say they number in the millions, has long loomed large over Turkey's constitutionally-secular state. To match Analysis TURKEY-GULEN/ REUTERS/Selahattin Sevi/Zaman Daily via Cihan News Agency (UNITED STATES - Tags: POLITICS RELIGION) FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY AND WAS PROCESSED BY REUTERS. AN UNPROCESSED VERSION WAS PROVIDED SEPARATELY. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY - RTX12NLZ

*Mustafa Akyol

Siapa berada dibalik kudeta berdarah di Turki, yang merenggut 160 jiwa, gedung parlemen dibom dan hampir membawa negeri ini ke jurang pemerintah militer yang brutal sejak 1982?

Sejak awal percobaan kudeta, pemerintah selalu menuding komunitas Fethullah Gulen, sekte Islam dengan pola kerja clandestine dalam pemerintahan Turki berada di balik percobaan kudeta. Tidak mengherankan jika terjadi pembersihan besar-besaran atas  Gulenis dalam tubuh militer, peradilan, kepolisian dan institusi lainnya. Namun, banyak pengamat Barat menutup mata atas tuduhan bahwa Gulen terlibat  kudeta, kata mereka tidak ada bukti. Beberapa pengamat bahkan menuduh kudeta sekarang adalah kebohongan Presiden Tayyip Erdogan dalam versi lain, pembakaran Reichstag (Gedung Parlemen Jerman pada masa Hitler).

Mungkin ada dua alasan skeptisme ini; akhir-akhir ini, Erdogan memang sering melontarkan banyak teori kosnpirasi  yang sering saya kritik. Belum lagi kecenderungan otoritarianisme  yang banyak pengamat dituding sebagai sebab utama problema di Turki.  Namun, beberapa praktik konspirasi (atas pemerintahan Erdogan) riil terjadi di Turki, seperti kudeta yang kita saksikan sekarang. Problem Gulen tidak hanya riil, namun juga berbahaya, seperti yang kita lihat sendiri.

Gerakan Gulen memiliki ratusan ribu anggota, yang semuanya percaya bahwa mantan khotib masjid ini memiliki bimbingan dan kebijaksanaan Tuhan. Banyak orang dari lingkaran dalam mereka memberitahu saya secara pribadi bahwa Gulen adalah”Yang Terpilih”, atau Al Mahdi, konsep mesiansisme versi Islam. Keyakinan ini yang mengikat kuat sehingga mereka taat dan tunduk kepada Gulen. Tidak ada khilaf dan bahkan kritik  tentang pandangan ini.

 Jika Gulenis mendirikan sekolah, lembaga amal, organisasi nir laba di seluruh dunia -seperti yang tampak- tentu tidak ada masalah. (Saya sendiri mengenal sisi “sipil” dalam gerakan Gulen dan bertemu dengan banyak orang baik di kalangan mereka, untuk itu, saya bersimpati). Namun di banyak peristiwa, anekdot dan laporan jurnalis berulang kali mengungkapkan bahwa para Gulenis ini punya sisi gelap, sebagai  organisasi rahasia dalam negara, yang memiliki proyek puluhan tahun untuk mengendalikan birokrasi negara.

Saya sudah menulis sisi gelap dua tahun lalu, ketika mewawancarai Hanafi Avci, mantan kepala polisi yang membongkar infiltrasi Gulenis di institusi kepolisian pada 2010 dalam bukunya yang book-selling. Dia dikemudian dijebloskan ke penjara atas tuduhan yang direkayasa. Avci menjelaskan bagaimana  Gulenis mendapatkan dokumen rahasia negara dan melakukan tindakan kriminal, seperti penyadapan pembicaraan telepon dan pemalsuan dokumen. Dia juga memperingatkan bahwa Gulenis sangat kuat dalam tubuh militer dan akan akan memanfaatkan militer sebagai langkah terakhir memerangi Erdogan.

Ini pula yang menjadi latar belakang kudeta Jumat. Sebulan lalu sebelum pergantian tahunan militer Turki, Erdogan berencana membersihkan institusi militer dari kelompok Gulenis. Banyak kelompok yang terlibat dalam percobaan kudeta naik pangkat setelah pembongkaran kasus Bolyus 2009, yang dilakukan para jaksa Gulenis yang sebelumnya digunakan Erdogan melawan kubu sekuler.

Kasus Bolyus sukses memenjarakan lebih dari 300 perwira sekularis, yang disebut Dani Rodrix, profesor Harvard yang juga anak angkat salah satu jenderal yang ditangkap- sebagai kasus palsu. Rodrix adalah akademisi liberal dan tentunya tidak mengagumi Erdogan, namun dia paham benar permasalahan diatas. Dalam tulisannya di Project Syndicate, “Turkey’s Baffling Coup,” dia menjelaskan tentang gerakan Gulenis:

“Klaim ini mungkin agak aneh dari yang tampak. Kita tahu bahwa ada pengaruh kuat Gulenis di militer…kenyataannya, militer adalah benteng terakhir Gulenis di Turki sejak Erdogan membersihkan para simpatisan gerakan ini di kepolisian, kejaksaan dan media. Kita juga tahu bahwa Erdogan sedang mempersiapkan manuver besar-besaran di militer….Maka Gulenis punya motif dan timing yang menjelaskan keterlibatan kelompok ini.”

Mungkin saja, beberapa non Gulenis, para perwira sekuler yang tidak suka Erdogan juga terlibat kudeta untuk alasan lain, seperti disebutkan Metin Gurcan. Namun, klaim bahwa Gulenis menjadi faktor utama bukan klaim palsu  atau teori konspirasi gila.

Maka apa artinya semua ini? Ini artinya Gulen yang ada di Pennsylvania sejak 1990-an harus diadili. Saat pemerintah menyebut adanya upaya kudeta dalam penyelidikan kasus korupsi, yang pantas disebut ‘penyelidikan korupsi dengan motif politik terselubung’  yang dilancarkan Gulenis atas para pejabat pemerintah, Desember 2013, maka percobaan kudeta berdarah kali masuk dalam level baru. Ini adalah serangan keji atas Turki yang harus diadili dan dihukum pelakunya.

Dengan kata lain, Gulen harus diadili dan untuk itu, pemerintah AS harus mengekstradisi Gulen ke Turki. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan apakah dia akan mendapatkan proses hukum yanga adil. Ini sama saja dengan penangkapan Abdullah Ocalan, pimpinan teroris Partai Pekerja Kurdi (PKK) pada 1999 oleh Amerika dan kemudian diekstradisi ke Turki. Ocalan mendapatkan peradilan yang fair. Gulen-pun demikian. Ini vital bagi hubungan Turki Amerika, dalam rangka meredakan eforia politik yang berbahaya dan mengembalikan keadaan norml. Ini vital untuk keadilan.

 

*Kolomnis al Monitor dan Hurriyet Daily News.
Sumber: al-monitor

Islamic preacher Fethullah Gulen is pictured at his residence in Saylorsburg, Pennsylvania in this December 28, 2004 file photo. A rare defence from a secretive Islamic movement of its role in Turkish political life has exposed a rift with Prime Minister Tayyip Erdogan that could weaken one of modern Turkey's most powerful leaders. The spell of Gulen, a 72-year-old U.S.-based Islamic preacher with a global network of schools, whose supporters say they number in the millions, has long loomed large over Turkey's constitutionally-secular state. To match Analysis TURKEY-GULEN/ REUTERS/Selahattin Sevi/Zaman Daily via Cihan News Agency (UNITED STATES - Tags: POLITICS RELIGION) FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY AND WAS PROCESSED BY REUTERS. AN UNPROCESSED VERSION WAS PROVIDED SEPARATELY. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY - RTX12NLZ

*Mustafa Akyol

Siapa berada dibalik kudeta berdarah di Turki, yang merenggut 160 jiwa, gedung parlemen dibom dan hampir membawa negeri ini ke jurang pemerintah militer yang brutal sejak 1982?

Sejak awal percobaan kudeta, pemerintah selalu menuding komunitas Fethullah Gulen, sekte Islam dengan pola kerja clandestine dalam pemerintahan Turki berada di balik percobaan kudeta. Tidak mengherankan jika terjadi pembersihan besar-besaran atas  Gulenis dalam tubuh militer, peradilan, kepolisian dan institusi lainnya. Namun, banyak pengamat Barat menutup mata atas tuduhan bahwa Gulen terlibat  kudeta, kata mereka tidak ada bukti. Beberapa pengamat bahkan menuduh kudeta sekarang adalah kebohongan Presiden Tayyip Erdogan dalam versi lain, pembakaran Reichstag (Gedung Parlemen Jerman pada masa Hitler).

Mungkin ada dua alasan skeptisme ini; akhir-akhir ini, Erdogan memang sering melontarkan banyak teori kosnpirasi  yang sering saya kritik. Belum lagi kecenderungan otoritarianisme  yang banyak pengamat dituding sebagai sebab utama problema di Turki.  Namun, beberapa praktik konspirasi (atas pemerintahan Erdogan) riil terjadi di Turki, seperti kudeta yang kita saksikan sekarang. Problem Gulen tidak hanya riil, namun juga berbahaya, seperti yang kita lihat sendiri.

Gerakan Gulen memiliki ratusan ribu anggota, yang semuanya percaya bahwa mantan khotib masjid ini memiliki bimbingan dan kebijaksanaan Tuhan. Banyak orang dari lingkaran dalam mereka memberitahu saya secara pribadi bahwa Gulen adalah”Yang Terpilih”, atau Al Mahdi, konsep mesiansisme versi Islam. Keyakinan ini yang mengikat kuat sehingga mereka taat dan tunduk kepada Gulen. Tidak ada khilaf dan bahkan kritik  tentang pandangan ini.

 Jika Gulenis mendirikan sekolah, lembaga amal, organisasi nir laba di seluruh dunia -seperti yang tampak- tentu tidak ada masalah. (Saya sendiri mengenal sisi “sipil” dalam gerakan Gulen dan bertemu dengan banyak orang baik di kalangan mereka, untuk itu, saya bersimpati). Namun di banyak peristiwa, anekdot dan laporan jurnalis berulang kali mengungkapkan bahwa para Gulenis ini punya sisi gelap, sebagai  organisasi rahasia dalam negara, yang memiliki proyek puluhan tahun untuk mengendalikan birokrasi negara.

Saya sudah menulis sisi gelap dua tahun lalu, ketika mewawancarai Hanafi Avci, mantan kepala polisi yang membongkar infiltrasi Gulenis di institusi kepolisian pada 2010 dalam bukunya yang book-selling. Dia dikemudian dijebloskan ke penjara atas tuduhan yang direkayasa. Avci menjelaskan bagaimana  Gulenis mendapatkan dokumen rahasia negara dan melakukan tindakan kriminal, seperti penyadapan pembicaraan telepon dan pemalsuan dokumen. Dia juga memperingatkan bahwa Gulenis sangat kuat dalam tubuh militer dan akan akan memanfaatkan militer sebagai langkah terakhir memerangi Erdogan.

Ini pula yang menjadi latar belakang kudeta Jumat. Sebulan lalu sebelum pergantian tahunan militer Turki, Erdogan berencana membersihkan institusi militer dari kelompok Gulenis. Banyak kelompok yang terlibat dalam percobaan kudeta naik pangkat setelah pembongkaran kasus Bolyus 2009, yang dilakukan para jaksa Gulenis yang sebelumnya digunakan Erdogan melawan kubu sekuler.

Kasus Bolyus sukses memenjarakan lebih dari 300 perwira sekularis, yang disebut Dani Rodrix, profesor Harvard yang juga anak angkat salah satu jenderal yang ditangkap- sebagai kasus palsu. Rodrix adalah akademisi liberal dan tentunya tidak mengagumi Erdogan, namun dia paham benar permasalahan diatas. Dalam tulisannya di Project Syndicate, “Turkey’s Baffling Coup,” dia menjelaskan tentang gerakan Gulenis:

“Klaim ini mungkin agak aneh dari yang tampak. Kita tahu bahwa ada pengaruh kuat Gulenis di militer…kenyataannya, militer adalah benteng terakhir Gulenis di Turki sejak Erdogan membersihkan para simpatisan gerakan ini di kepolisian, kejaksaan dan media. Kita juga tahu bahwa Erdogan sedang mempersiapkan manuver besar-besaran di militer….Maka Gulenis punya motif dan timing yang menjelaskan keterlibatan kelompok ini.”

Mungkin saja, beberapa non Gulenis, para perwira sekuler yang tidak suka Erdogan juga terlibat kudeta untuk alasan lain, seperti disebutkan Metin Gurcan. Namun, klaim bahwa Gulenis menjadi faktor utama bukan klaim palsu  atau teori konspirasi gila.

Maka apa artinya semua ini? Ini artinya Gulen yang ada di Pennsylvania sejak 1990-an harus diadili. Saat pemerintah menyebut adanya upaya kudeta dalam penyelidikan kasus korupsi, yang pantas disebut ‘penyelidikan korupsi dengan motif politik terselubung’  yang dilancarkan Gulenis atas para pejabat pemerintah, Desember 2013, maka percobaan kudeta berdarah kali masuk dalam level baru. Ini adalah serangan keji atas Turki yang harus diadili dan dihukum pelakunya.

Dengan kata lain, Gulen harus diadili dan untuk itu, pemerintah AS harus mengekstradisi Gulen ke Turki. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan apakah dia akan mendapatkan proses hukum yanga adil. Ini sama saja dengan penangkapan Abdullah Ocalan, pimpinan teroris Partai Pekerja Kurdi (PKK) pada 1999 oleh Amerika dan kemudian diekstradisi ke Turki. Ocalan mendapatkan peradilan yang fair. Gulen-pun demikian. Ini vital bagi hubungan Turki Amerika, dalam rangka meredakan eforia politik yang berbahaya dan mengembalikan keadaan norml. Ini vital untuk keadilan.

 

*Kolomnis al Monitor dan Hurriyet Daily News.
Sumber: al-monitor

Haruskah Fethulah Gulen diadili

Islamic preacher Fethullah Gulen is pictured at his residence in Saylorsburg, Pennsylvania in this December 28, 2004 file photo. A rare defence from a secretive Islamic movement of its role in Turkish political life has exposed a rift with Prime Minister Tayyip Erdogan that could weaken one of modern Turkey's most powerful leaders. The spell of Gulen, a 72-year-old U.S.-based Islamic preacher with a global network of schools, whose supporters say they number in the millions, has long loomed large over Turkey's constitutionally-secular state. To match Analysis TURKEY-GULEN/ REUTERS/Selahattin Sevi/Zaman Daily via Cihan News Agency (UNITED STATES - Tags: POLITICS RELIGION) FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY AND WAS PROCESSED BY REUTERS. AN UNPROCESSED VERSION WAS PROVIDED SEPARATELY. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY - RTX12NLZ

*Mustafa Akyol

Siapa berada dibalik kudeta berdarah di Turki, yang merenggut 160 jiwa, gedung parlemen dibom dan hampir membawa negeri ini ke jurang pemerintah militer yang brutal sejak 1982?

Sejak awal percobaan kudeta, pemerintah selalu menuding komunitas Fethullah Gulen, sekte Islam dengan pola kerja clandestine dalam pemerintahan Turki berada di balik percobaan kudeta. Tidak mengherankan jika terjadi pembersihan besar-besaran atas  Gulenis dalam tubuh militer, peradilan, kepolisian dan institusi lainnya. Namun, banyak pengamat Barat menutup mata atas tuduhan bahwa Gulen terlibat  kudeta, kata mereka tidak ada bukti. Beberapa pengamat bahkan menuduh kudeta sekarang adalah kebohongan Presiden Tayyip Erdogan dalam versi lain, pembakaran Reichstag (Gedung Parlemen Jerman pada masa Hitler).

Mungkin ada dua alasan skeptisme ini; akhir-akhir ini, Erdogan memang sering melontarkan banyak teori kosnpirasi  yang sering saya kritik. Belum lagi kecenderungan otoritarianisme  yang banyak pengamat dituding sebagai sebab utama problema di Turki.  Namun, beberapa praktik konspirasi (atas pemerintahan Erdogan) riil terjadi di Turki, seperti kudeta yang kita saksikan sekarang. Problem Gulen tidak hanya riil, namun juga berbahaya, seperti yang kita lihat sendiri.

Gerakan Gulen memiliki ratusan ribu anggota, yang semuanya percaya bahwa mantan khotib masjid ini memiliki bimbingan dan kebijaksanaan Tuhan. Banyak orang dari lingkaran dalam mereka memberitahu saya secara pribadi bahwa Gulen adalah”Yang Terpilih”, atau Al Mahdi, konsep mesiansisme versi Islam. Keyakinan ini yang mengikat kuat sehingga mereka taat dan tunduk kepada Gulen. Tidak ada khilaf dan bahkan kritik  tentang pandangan ini.

 Jika Gulenis mendirikan sekolah, lembaga amal, organisasi nir laba di seluruh dunia -seperti yang tampak- tentu tidak ada masalah. (Saya sendiri mengenal sisi “sipil” dalam gerakan Gulen dan bertemu dengan banyak orang baik di kalangan mereka, untuk itu, saya bersimpati). Namun di banyak peristiwa, anekdot dan laporan jurnalis berulang kali mengungkapkan bahwa para Gulenis ini punya sisi gelap, sebagai  organisasi rahasia dalam negara, yang memiliki proyek puluhan tahun untuk mengendalikan birokrasi negara.

Saya sudah menulis sisi gelap dua tahun lalu, ketika mewawancarai Hanafi Avci, mantan kepala polisi yang membongkar infiltrasi Gulenis di institusi kepolisian pada 2010 dalam bukunya yang book-selling. Dia dikemudian dijebloskan ke penjara atas tuduhan yang direkayasa. Avci menjelaskan bagaimana  Gulenis mendapatkan dokumen rahasia negara dan melakukan tindakan kriminal, seperti penyadapan pembicaraan telepon dan pemalsuan dokumen. Dia juga memperingatkan bahwa Gulenis sangat kuat dalam tubuh militer dan akan akan memanfaatkan militer sebagai langkah terakhir memerangi Erdogan.

Ini pula yang menjadi latar belakang kudeta Jumat. Sebulan lalu sebelum pergantian tahunan militer Turki, Erdogan berencana membersihkan institusi militer dari kelompok Gulenis. Banyak kelompok yang terlibat dalam percobaan kudeta naik pangkat setelah pembongkaran kasus Bolyus 2009, yang dilakukan para jaksa Gulenis yang sebelumnya digunakan Erdogan melawan kubu sekuler.

Kasus Bolyus sukses memenjarakan lebih dari 300 perwira sekularis, yang disebut Dani Rodrix, profesor Harvard yang juga anak angkat salah satu jenderal yang ditangkap- sebagai kasus palsu. Rodrix adalah akademisi liberal dan tentunya tidak mengagumi Erdogan, namun dia paham benar permasalahan diatas. Dalam tulisannya di Project Syndicate, “Turkey’s Baffling Coup,” dia menjelaskan tentang gerakan Gulenis:

“Klaim ini mungkin agak aneh dari yang tampak. Kita tahu bahwa ada pengaruh kuat Gulenis di militer…kenyataannya, militer adalah benteng terakhir Gulenis di Turki sejak Erdogan membersihkan para simpatisan gerakan ini di kepolisian, kejaksaan dan media. Kita juga tahu bahwa Erdogan sedang mempersiapkan manuver besar-besaran di militer….Maka Gulenis punya motif dan timing yang menjelaskan keterlibatan kelompok ini.”

Mungkin saja, beberapa non Gulenis, para perwira sekuler yang tidak suka Erdogan juga terlibat kudeta untuk alasan lain, seperti disebutkan Metin Gurcan. Namun, klaim bahwa Gulenis menjadi faktor utama bukan klaim palsu  atau teori konspirasi gila.

Maka apa artinya semua ini? Ini artinya Gulen yang ada di Pennsylvania sejak 1990-an harus diadili. Saat pemerintah menyebut adanya upaya kudeta dalam penyelidikan kasus korupsi, yang pantas disebut ‘penyelidikan korupsi dengan motif politik terselubung’  yang dilancarkan Gulenis atas para pejabat pemerintah, Desember 2013, maka percobaan kudeta berdarah kali masuk dalam level baru. Ini adalah serangan keji atas Turki yang harus diadili dan dihukum pelakunya.

Dengan kata lain, Gulen harus diadili dan untuk itu, pemerintah AS harus mengekstradisi Gulen ke Turki. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan apakah dia akan mendapatkan proses hukum yanga adil. Ini sama saja dengan penangkapan Abdullah Ocalan, pimpinan teroris Partai Pekerja Kurdi (PKK) pada 1999 oleh Amerika dan kemudian diekstradisi ke Turki. Ocalan mendapatkan peradilan yang fair. Gulen-pun demikian. Ini vital bagi hubungan Turki Amerika, dalam rangka meredakan eforia politik yang berbahaya dan mengembalikan keadaan norml. Ini vital untuk keadilan.

 

*Kolomnis al Monitor dan Hurriyet Daily News.
Sumber: al-monitor