Senjakala Majalah Horison

"cover majalah horison"

Majalah horison yang dikenal sebagai majalah sastra dan kebudayaan berada di titik akhir edisi cetak. Lima puluh tahun lalu, majalah ini memulai risalahnya. Ia dibidani oleh lima orang punggawa, yaitu Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Zaini, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin (kemudian ganti nama menjadi Arief Budiman, kakak dari Soe Hok Gie), dan D.S. Moeljanto.

[caption id="attachment_110" align="alignnone" width="300"]"majalah horison" Majalah Horison edisi perdana dan terakhir[/caption]

Di edisi perdananya, Juli 1966, kita bisa membaca tulisan Goenawan Mohamad, “Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini”; cerpen Mochtar Lubis, “Kuburan Keramat”; esai Soe Hok Djin yang cukup legendaris, “Esei tentang Esei”; cerpen Umar Kayam, “Chief Sitting Bull”; tulisan Wiratmo Soekito, “Konsepsi Kita bukan Hanja Ideologi, Tapi Idea”; cerpen Ras Siregar, “Muntik No. 11”; dan sejumlah tulisan dan puisi lainnya. Tebal seluruhnya hanya 32 halaman saja.

Majalah Horison ini mungkin mudah kita temukan di Pepus SMA-SMA Negeri di Indonesia, beberapa tahun  lalu, namun kini jutsru mulai menghilang. Lima puluh tahun setelah edisi perdananya terbit, tepat dalam edisi ke-50,  Juli 2016, Horison terbit dalam edisi spesial setebal 214 halaman. Sampulnya mengkilat, isinya kertas putih, tak sebagaimana tampilan fisiknya hingga dekade 1970-an yang hanya berupa kertas buram.. Juli ini, Majalah  Horison berulang tahun ke-50. “Bersamaan dengan ulang tahun emasnya itu pula ia menyatakan diri pamit. Edisi khusus yang mentereng itu menjadi edisi penghabisannya..” terang Tarli Nugroho salah seorang akademisi UGM.

Horison memiliki sejarah panjang dalam dunia sastra Indonesia, sebuah majalah yang bergengsi dengan aneka karya sastra. Awal tahun 90-an, sempat tercipta polemik ketika ada rencana Majalah Horison ini akan diakuisisi oleh Tempo Group, yang kemudian batal, Tempo Group sendiri akhirnya memilih menerbitkan majalah Kalam,. Peristiwa ini juga sempat memunculkan majalah Horison edisi sempalan

[caption id="attachment_111" align="alignnone" width="300"]"cover majalah horison" polemik majalah horison tahun 90an. kiri versi tempo, kanan versi pendiri[/caption]

Setelah mengumumkan edisi cetak terakhir di ulang tahun ke-50, majalah Horison bencana mentransformasi diri ke dalam bentuk online.  ““biaya untuk menerbitkan cetak cukup besar. Dengan beralih ke online, biaya menjadi tidak sedemikian besar,” kata salah satu pendiri Horison, Taufiq Ismail, dalam peringatan 50 tahun Horison di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu  sebagaimana diberitakan oleh Antara. Namun masih banyak pihak menyangsikan transformasi ini akan sukses. Laman dalam jaringan Horison sendiri bukan barang baru, melainkan sudah ada sejak 2009 dan dirintis oleh ahli bahasa Melayu Amin Sweeney sebagai pemimpin redaksi periode 2009-2010. Saat ini, pemimpin redaksi Horison online dijabat oleh Sastri Sunarti, penyair yang juga pegawai negeri sipil di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Berakhirnya edisi cetak Majalah Horison ini sebenarnya sangat disayangkan, sekaligus pertanda apakah memang Sastra dan Budaya tak lagi di minati oleh anak-anak muda bangsa ini kini? Terlalu larut dalam sosial media dan media online lain yang serba instan dan kadang miskin verifikasi sepertinya menjadi wajah genarasi muda bangsa ini. Meskipun telah mentrasnformasi menjadi media online, masih diragukan kemampuan penetrasi Horison pada kalangan generasi millenial ini, apalagi jika tidak dibarengi dengan upaya promosi yang serius, perilaku konsumsi media publik memang berubah, termasuk kegemaran dalam menkonsumsi karya sastra. Tanpa strategi dan manajemen konten yang serius, bukan tidak mungkin Horison akan benar-benar tenggelam kalah bersaing dengan media jaringan lain.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan, tanpa bacaan sastra dan budaya yang bermutu apa benar bangsa ini akan bisa berbudaya sebagaimana tujuan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Pemerintah kita?