Jangan bertanya pada mereka para anak muda yang sekarang mendiami bangku perkuliahan atau anak muda yang lebih sering kelayapan dimall atau dijalan-jalan,jangan tanyakan pada mereka apa yang mereka inginkan tentang sebuah reformasi yang satu dekade yang lalu menjadi semangat yang menjalari setiap pemuda negeri ini. Kampus yang menjadi basis intelektual pemuda kini tidak diwarnai seluruhnya dengan semangat perubahan yang dulu pernah dijunjung tinggi di seluruh penjuru nusantara. Hanya sebagian saja dari mahasiswa yang sadar dan peduli dengan hakekat reformasi yang pada tahun 1998 telah menjadi nafas gerakan mahasiswa, kala itu dimana seluruh negeri berguncang dalam satu semangat untuk menuntut perubahan, membumikan asa yang melangit dan menemukan klimaksnya pada saat pergantian era soeharto ke habibie. Apakah cukup sampai disitu ? ternyata tidak reformasi adalah gerakan yang kontinyu dan memiliki gelombang simultan sampai beberapa tahun setelahnya, ya beberapa tahun setelahnya dengan diadakanya pemilu 1999,2004,2009 kita menemukan sebuah hakekat demokrasi yang dahulu pernah terpasung, reformasi birokrasi, hukum, ekonomi semua menjadi tuntutan yang bergaung beriringan, lantas apakah semua telah menemui bentuknya? Sebuah pertanyaan besar kemudian muncul ,apakah benar seperti ini reformasi yang kita inginkan dulu? Satu dekade setelah reformasi kita hanya menemui sebuah “sandiwara politik”, rekayasa hukum, kesenjangan sosial,liberalisasi ekonomi,komersialisasi pendidikan, angka pengangguran angkatan kerja produktif yang tinggi dan permasalahan lain yang tidak kunjung usai. Jadi tidak salah jika kemudian ada yang beranggapan bahwa reformasi tak lebih dari sekedar mengganti pemimpin era soeharto dan menggantikanya dengan pemimpin lain beserta jajaranya yang dahulunya di zaman soeharto tak bisa berkuasa. Jangan salahkan pula jika kemudian kini mahasiswa juga tidak satu suara dalam memaknai reformasi yang dulu diusung oleh para pendahulunya. Karena wajar kondisi sosial yang muncul adalah memunculkan kenyamanan bagi sebagian kelompok dan mendatangkan ketidaknyamanan bagi kelompok yang lain, dan bagi yang sudah berada dalam kenyamanan maka sah saja jika kemudian beranggapan reformasi telah selesai, dan bagi sebagian yang lain beranggapan reformasi belum selesai, atau ada yang tidak puas dengan reformasi yang telah berjalan ini.

'mahasiswa-reformasi'

Semua menjadi wajar saja jika memang kondisi yang dialami oleh mahasiswa telah menimbulkan berbagai keragaman pola pikir yang akhirnya menimbulkan warna yang berbeda pada gerakan mahasiswa. Menegaskan saja bahwa mahasiswalah yang dahulu menjadi penggerak reformasi. Tapi kini coba tengoklah kemana arah mereka, bagi mahasiswa yang sehari-hari bergaul dalam lingkungan hedonis tentu tidak mau ambil pusing dengan peliknya idealisme semacam itu, bagi yang beraliran sosialis mungkin akan menganggap bahwa kedzaliman masih terus berlanjut di negeri ini, bagi yang menekuni aktivitas dakwah kampus wajar kemudian memiliki pandangan berbeda tentang tantangan dakwah, yang berpaham nasionalis akan lebih progresif dalam tuntutan dan kajian mereka, atau yang memiliki orientasi akademik akan semakin tekun dengan kajian akademik dan aktivitas riset lainya, yang memiliki kecenderungan berwirausaha akan semakin sibuk dengan usahanya. Apapun kesibukanya itulah warna kehidupan mahasiswa masa kini, memiliki poros masing-masing dan bias mudah saja terkooptasi oleh berbagai kepentingan. Apakah itu kemudian salah ? tidak juga sebab itu semua adalah pilihan masing-masing yang menjadi hak tiap orang, tapi kemudian dengan berbagai kondisi semacam itu apakah lantas menjadikan mahasiswa atau gerakan pemuda yang lain menjadi mandul dan tidak bergigi? Apakah kemudian dengan kondisi semacam itu menjadikan antar elemen gerakan saling berselisih karena berbeda kepentingan ?

Apapun kondisi yang melatar belakangi, semuanya semakin mempertegas simpulan bahwa gerakan pemuda telah mengalami polarisasi dan berbeda visi satu dengan yang lain, berbeda suara, berselisih orientasi dan yang jelas makin bervariatif. Mungkin akan ada pertanyaan apa pedulinya masyarakat umum dengan “warna” yang terjadi dengan mahasiswa? Toh mereka juga tidak saling berkaitan secara langsung, apakah memang demikian adanya? Coba diingat mahasiswa itu juga bagian dari masyarakat mereka meiliki bagian tersendiri dalam strata sosial masyarakat, mahasiswa masih dianggap sebagai representasi kaum intelektual yang dapat menyampaikan aspirasi masyarakat. Dibandingkan kalangan professional atau kalangan elit yang berkuasa di negeri ini, mahasiswa lebih dekat dengan masyarakat bawah dan lebih bersentuhan dengan realitas. Jadi kondisi yang terjadi pada gerakan mahasiswa jelas akan memiliki impilkasi luas pada kehidupan bermasyarakat di negri ini, karena kehidupan demokrasi di negeri ini memang masih berkembang, sehingga peran mahasiswa dan gerakan muda lain dalam dinamisasi sosial memberikan dampak nyata yang berpengaruh terhadap struktur sosial di masyarakat.

Perbedaan visi yang kini terjadi pada berbagai macam elemen gerakan mahasiswa baik itu intra kampus ataupun ekstra kampus jelas menggambarkan bahwa sebuah pergeseran arah reformasi yang dahulu diusung. Hal ini menyebabkan ruh reformasi yang dahulu muncul dan membara di dada para pemuda kini menjadi jalan ditempat bahkan mengalami disorientasi. Mungkin akan ada yang menilai bahwa anggapan ini hanya bersifat subjektif semata, tapi cobalah lihat realitas yang kini terjadi, Korupsi yang dahulu digugat kini bahkan semakin menggurita saja, kita merindukan pendidikan yang murah dan terjangkau kenyataan yang muncul adalah komersialisasi yang sangat nyata dan pendidikan belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia di usia produktif mereka, kita dahulu menghendaki pengelolaan sumber daya alam bangsa ini oleh bangsa kita sendiri, kenyataan yang muncul adalah liberalisasi ekonomi dan intervensi asing semakin menggila ditambah dengan dampak globalisasi dan kebijakan pasar bebas yang membabat ekonomi Indonesia hingga semakin jauh dari orientasi yang dimunculkan diawal reformasi, penegakan hukum juka seakan menjadi utopia semata,karena memang belum bisa dilaksanakan secara maksimal bahkan cenderung mudah direkayasa. Apakah memang seperti ini reformasi yang kita inginkan?

Kemanakah arah pergerakan reformasi ini akan dibawa? Ketika rakyat sendiri sudah semakin melupakan reformasi dan muncul kerinduan pada kesuksesan diera orde baru, lantas apalagi yang akan muncul. Mahasiswa sebagai pilar penting reformasi juga semakin melupakan arti penting reformasi dan sibuk dengan berbagai kepentingan masing-masing. LSM dan elemen ekstra lain juga belum memberikan dampak nyata terhadap proses “perubahan besar-besaran “ yang dahulu kita inginkan. Apakah memang nilai dan semangat reformasi akan semakin tergerus oleh roda zaman yang menjadikan kita sebagai rakyat hanya akan menjadi penonton dalam mekanisme perubahan alami yang dengan mudahnya direkayasa oleh elit penguasa negeri ini.

Kita membutuhkan kejelasan, membutuhkan ketegasan, menginginkan perubahan yang nyata atas ketidakadilan yang berjalan dengan langgeng dinegeri ini. Perubahan itu mutlak terjadi dan akan terus berlanjut sampai mencapai titik stabil yang dinginkan. Pertanyaan yang sekarang muncul adalah siapa yang akan mewarisi dan meneruskan semangat perjuangan reformasi ini? Akankah reformasi itu kemudian akan menguap dengan sendirinya seiring berjalanya waktu,dan hanya menyisakan cerita yang berlanjut dari generasi ke generasi selanjutnya. Jika memang tidak dikehendaki hal yang demikian maka setiap stake holder yang mengambil peran dalam proses reformasi ini harus kembali pada satu sisi mulia bahwa dahulu reformasi ini muncul karena ketidakadilan dan ketimpangan yang muncul dan berharap menjadi solusi yang akan mengakhirinya. Kalaupun jika sekarang ini cita-cita mulia itu belum terwujud maka apakah pantas jika kemudian kita berhenti dalam memperjuangkan reformasi ini dan duduk terdiam saja, ingatlah bahwa setiap gerakan entah dari mahasiswa, masyarakat lapis bawah ataupun gerakan lainya haruslah siap mengawal proses reformasi ini.

Inilah jawaban atas peran pemuda dimana masa depan umat ini terletak padanya, sebuah pengharapan akan terbitnya sinar cahaya negeri madani di negeri Indonesia kita tercinta, mari sejenak merenungi sejauh mana kita selama ini telah melangkah dan berkontribusi.