Jejak VOC 2 : Republik Kaum Pedagang

Setelah pada tulisan sebelumnya kita membahas tentang garis besar kekuatan VOC, pada tulisan kali ini akan dibahas lebih detail tentang aspek manajemen dan kelahiran VOC itu sendiri. Membicarakan VOC memori kolektif publik Indonesia mungkin akna langsung teringat dengan film laga kolosal tahun 80-an yang diperankan oleh Barry Prima, George Rudi atau Advent Bangun ketiak menghajar tentara kompeni VOC dengan aneka macam jurus silat. Jarang sekali dalam buku sejarah Indonesia yang mencoba menjelaskan dari sudut pandang ekonomi atau skema komersial global saat itu, bahwa VOC adalah sebuah perusahaan multinasional pertama dan terbesar, yang pernah singgah di Nusantara.

VOC berdagang dengan nenek moyang kita, sambil melakukan parketk-praktek model bisnis monopoli, bertukar konsesi wilayah dagang dengan para raja, yang notabene adalah pemilik tanah terluas, sehingga ujung-ujungnya terbentuklah narasi historis, “Kolonialisme 350 tahun” sebagaimana sering diajarkan di buku sekolah. Padahal tidak sepenuhnya benar demikian, semasa VOC berada di bumi Nusantara banyak terdapat kerajaan yang masih berdaulat penuh, meski mereka berbisnis dengan VOC, kompeni tidak melakukan penguasaan wilayah, murni perjanjian bisnis kebanyakan.

VOC juga dituduh sebagai institusi yang korup, namun jarang sekali yang memaparkan bagaimana seharusnya institusi yang beroperasi dengan benar dan sehat. Interaksi VOC dengan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusantara tidak selalu berjalan mulus, banyak sekali gesekan yang berujung pada konflik senjata secara terbuka. Lantas bagaimana peran saingan VOC yaitu East India Company (EIC) dalam persaingan bisnis di Nusantara ini ?

REPUBLIK KAUM PEDAGANG

"boekhoud-voc"

seorang ahli sejarah Belanda, George Masselman, menulis, “Ekonomi zaman pertengahan tidak membutuhkan kapital seperti yang dicontohkan oleh gilda-gilda (bahasa skandinavia, bisa diartikan asosiasi atau perkumpulan) yang menghambat inisiatif pribadi dan kompetisi. Belanda yang sedang bangkit mengambil pandangan yang berbeda, mereka menginginkan perdagangan sebanyak mungkin. Satu-satunay hal yang dapat menghambat seorang pedagang adalah kekurangan kapital. Tentu saja dia dapat bekerjasama dengan pedagang lainnya dan melakukan perdagangan bersama (kongsi) atau dia dapat membujuk orang luar untuk menaruh uang padanya (investasi), menawarkan kepada mereka sebagian dari laba”

Kelahiran Belanda di kemudian hari ini memang unik, metode kolonialis ketika masuk ke Nusantara adalah pertama kali dilakukan oleh kaum borjuasi (perdagangan-komersial) bukan oleh kaum penguasa feodal yang biasanya genar mempertahankan aset tanah dan memburu rente.

Poin penting yang membedakan antara golongan feodal dengan borjuis adalah orientasi nilai lebih yang mereka kejar, jika feodal mengandalkan sewa aset dan modal, sehingga mendapatkan hasil rente (rent seeking), maka koum borjuis mengejar profit margin dari selisih antara pembelian komoditas dari pemasoj dan penjualan ke pasar/konsumen (margin seeking).

Poin berikutnya yang tidak dikenal dan dilupakan oleh kebanyakan intelektual pengadopsi ide Karl Marx, revolusi borjuis yang pertama terjadi adalah di Republik Belanda dan bukan Kerajaan Inggris. Pemberontakan Belanda pada abad ke-16 (1568-1609) mungkin adalah revolusi borjuis “kalsik” yang paling sering terabaikan. Walaupun Marx dan Engels, dua tokoh komunis paling berpengaruh, hanya menulis beberapa kalimat yang terpencar-pencar mengenai pemberontakan Belanda, jelas bahwa mereka mengakuinya sebagai salah satu momen penting dalam kebangkitan borjuis yang historis. Pada tahun 1848, Marx menulis model dari revolusi 1789 di Perancis adalah revolusi 1648 Inggris dan model revolusi 1648 hanyalah pemberontakan Belanda melawan Spanyol, hal ini termaktub dalam buku Ted Sprague yang membahas sejarah kapitalisme di Indonesia.

Secara efektif, kepulauan nusantara yang menjadi cikal bakal negara Republik Indonesia, selama 200 tahun tidaklah dijajah institusi “Negara” berbadan hukum Republik Belanda, melainkan oleh sebuah institusi perusahaan publik, tak lain yaitu VOC.

AKTA PENDIRIAN VOC

"Kantor_VOC_di_Batavia"

VOC terbentuk tahun 1602 dari penggabungan enam perusahaan kecil. Setelah Compagnie Van Perre yang berpangkalan di Amsterdam menyelenggarakan ekspedisi pertama ke Asia (1595-1597) dan membuktikan bahwa orang Belanda pun mampu menembus akses jalur laut ke Asia, menyusul tak lama kemudian langsung juga didirikan perusahaan serupa di Amsterdam, Rotterdam dan Zeeland. Para perusahaan ini saling bersaing satu sama lain, sehingga berdampak pada penurunan laba secara siginifikan, karena ada biaya ekspedisi ke Asia yang mesti dikeluarkan. Berkurangnya laba ini membuat para penanam modal berfikir ulang, karena akan beresiko mengancam kelanjutan pelayaran perdagangan.

Perusahaan ini pun kemudian melebur menjadi kongsi dagang-dagang kecil dalam skala regional, baru kemudian oleh pemerintah Belanda diatur dalam skala lebih luas. Tanggal 20 Maret 1602, Parlemen Belanda mengeluarkan sebuah dasar hukum legal formal, hak oktroi atau nota kesepahaman, dengan demikian berdirilah generale vereenichde geoctroyeerde compagnie. Hak tersebut dinyatakan dengan amsa berlaku selama 21 tahun dan dapat diperbaharui. Unsur persaingan antar perusahaan sudah dihapuskan, karena dengan oktroi tersebut menetapkan bahwa tidak satu pihak pun selain Kompeni VOC yang diperbolehkan mengirimkan kapal-kapal dagang dari negeri Belanda ke daerah sebelah timur Tanjung Harapan dan si sebelah barat Selat Magellan atau mengadakan perdgangan di wilayah yang disebutkan. Selama dua abad selanjutnya, VOC menjadi perusahaan dagang paling penting di Eropa. Ia menciptakan monopoli di perdagangan rempah-rempah, terutama lada, kayu manis dan cengkeh. Selama 90 tahun pertama, VOC meraup dividen sebesar 18,7 % setiap tahun.

GURITA BISNIS VOC

Model operasi manajemen bisnis multinasional yang dikendalikan oleh VOC ini menjadi material dasar pembelanjaran, sebuaah evolusi sistem manajemen model bisnis bagi perusahaan-perusahaan multinasional yang lahir pada abad-abad berikutnya. Pasar modal amsterdam abad ke-17 juga merupakan cikal bakal berdirinya pasar modal London dan New York (
Wall Street) yang akan menjadi tulang punggung kapitlasime global saat ini, abad ke-21.

[caption id="attachment_404" align="alignnone" width="774"]Perbandingan valuasi Saham VOC dengan perusahaan abad 21 (sumber : Menjiplak VOC oleh Julius Galih) Perbandingan valuasi Saham VOC dengan perusahaan abad 21 (sumber : Menjiplak VOC oleh Julius Galih, disesuaikan inflasi tahun 2012)[/caption]

VOC adalah perusahaan yang pertama kali melemparkan sahamnya ke publik, di Pasar Modal Amsterdam. VOC yang beroperasi di abad ke-17 sampai awal abad ke-19 adalah perusahaan terbesar dalam catatan sejarah pasar modal, bahkan jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan multinasional di abad 21. Sejak didirikan pada tahun 1602, dimana oleh parlemen Belanda (Saat itu belum berupa kerajaan) diberikan hak monopoli atas keseluruhan operasi perdagangan internasioanl Belanda di Asia, sampai diberhentikan operasi pada tahun 1796, selama itu VOC mengirimkan total jutaan orang ke Asia, jauh lebih banyak dibandingkam dengan keseluruhan jumlah penduduk Eropa waktu itu.

Salah satu penyebabnya, Amsterdam saat itu adalah pusat ekosistem keuangan global, selam rentang waktu 200 tahun, sebelum London mengambil alih. Keberadaan VOC bukan saja mengubah peta kekuatan politik dunia, tetapi juga pasar keuangan global.

VOC memimpin hampir 5000 kapal dagang, dan menikmati keuntungan besar dari perdagangan komoditas rempah. Saat itu VOC sebagai sebuah perusahaan ukuran omzetnya lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan domestik bruto beberapa negara. Dengan segala kegemilangan VOC nasib tragis harus diterima, perusahaan yang menjadi narasi besar dalam sejarah perekonomian dunia ini dinyatakan bangkrut, pailit, dan ditutup secara resmi pada 14 April 1822. Perusahaan multinasional nan digdaya ini bangkrut dengan meninggalkan hutang sebesar 219 miliar gulden, yang kemudian diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda (bail out), hingga malah membebani negara, bahkan sampai abad ke-19. Kejayaan selama 200 tahun operasional VOC berakhir sudah.

"voc-banda"

VOC juga mengalami rivalitas layaknya kompetisi dagang di abad 21, saat itu saingan VOC tak lain adalah East India Company (EIC) milik Inggris. EIC diberikan hak monopoli perdagangan di belahan dunia timur oleh Ratu Elizabeth I. Seringkali jadi pertanyaan kenapa Inggris tidak berusaha menjadi kekuatan perdagangan global yang pertama, kenapa justru Belanda? Kerajaan Inggris sendiri adalah negara dengan wilayah dan jumlah penduduk lebih besar, dan kekuatan angkatan laut lebih kuat daripada Republik Belanda, EIC sendiri berdiri dua tahun lebih awal dibandingkan VOC, yaitu didirikan tahun 1600.

EIC sendiri pada awalnya tidak didukung selain hak monopoli, setiap pelayaran dengan permodalan terpisah yang cenderung tidak dibagi resikonya, beban ditanggung masing-masing. VOC disisi lain menerima pendanaan dari penawaran saham terbuka di pasar modl, serta dukungan finansial dari semua kota yang terlibat dalam perdagangan, ada modal patungan dan pembagian resiko.

VOC dan EIC sendiri sempat mengalami kontak senjata di Kepulauan Banda, yang berujung pada pembantaian Amboyna, yang menewaskan 10 pegawai EIC dengan alasan pengkhianatan, wanprestasi perjanjian dagang. Konflik di Banda ini mendorong EIC menarik perusahaanya ke India. Dalam waktu singkat, monopoli rempah mendorong raksasa ke kas VOC, apalagi permintaan pasar Eropa sangat tinggi.

VOC sebenarnya tidak hanya mengendalikan perdagangan antara Asia dan Eropa, mereka juga mengontrol perdagangan intra Asia, terutama perak. Biaya pengiriman kembali barang dari Asia ke Eropa sangat mahal, pendapatan bersih dari perdagangan intra Asia ikut meringankan beban pengeluaran logistik pengiriman barang ke Eropa. VOC punya monopoli dagang dengan jepang serta mengatur perdagangan perunggu dari Jepang ke India dan China, kemudian ditukar dengan sutera, kapas, porselen dan tekstil. Produk-produk ini diperdagangkan dengan kerajaan-kerjaan du Asia untuk ditukaar dengan pala, cengkeh kayumanis, lada dan kopi, lalu dikirim ke Eropa untuk dijual lagi. Sejak 1635-1690 pemasukan VOC jauh lebih besar daripada pengeluarannya, karena adnya perdagangan intra Asia ini.

Lantas apakah perjalanan VOC di Nusantara ini berjalan mulus saja tanpa hmbatan berarti, apakah rakyat dan kerajaan nusantara ini tidak melakukan perlawanan ? Akan kita bahas di tulisan selanjutnya.